Travel Story

Merapi dan Rindu yang Menjadi (Bagian 2)

on
28 Maret 2018
Pendakian Gunung Merapi via New Selo Merapi tak pernah ingkar janji

Mimpi mengunjungi Merapi

Sebelum melanjutkan cerita dari tulisan Merapi dan Rindu yang Menjadi (Bagian 1) saya ingin bercerita tentang mimpi dan rindu yang pernah saya rasakan sebelum mengunjungi Merapi. Agustus 2017 saya melakukan pendakian ke Gunung Merbabu lewat Selo. Di saat perjalanan menuju ke Sabana 2, saya melihat betapa indah dan gagahnya Gunung Merapi di sebelah sana. Sejak saat ini, aku berkeinginan dalam hati bahwa suatu saat akan mengunjungi Gunung Merapi. Dan pada bulan Februari 2018 , mimpi dan rindu itu menjadi nyata.

Melanjutkan cerita di Bagian 1, setelah selesai makan malam, sholat, kami semua bersepakat untuk segera tidur karena esok pagi kita akan melanjutkan perjalanan ke Pasar Bubrah dan summit attack ke Puncak Garuda. Pukul 19.00 , hujan masih belum mau berpaling dari kami, sementara kami semua sudah berada di sleeping bag nya masing-masing. Berharap bisa tidur cepat, namun ada satu teman saya, Fauzi namanya, yang tidak bisa dengan begitu saja tidur. Dia minta ditemani berbincang sebelum tidur, mungkin waktu kecilnya dia sering dibacakan dongeng sebelum tidur, hehe. Ada juga perdebatan antara menyalakan atau mematikan lampu tenda sebelum kami tidur.

Satu jam berlalu, akhirnya kami semua tidur dengan kondisi lampu dinyalakan remang-remang. Entah mengapa saya bingung jika sedang tidur di gunung, waktu terasa lama sekali. Jujur saja, sudah berapa kali saya berganti mimpi dan terbangun dari tidur namun kondisi masih saja gelap. Saya merasa tidur saya tidak pulas, berulang kali mendengar suara pendaki lain yang berjalan di sisi tenda kami, ada juga yang berteduh di dekat tenda kami. Dan juga karena kondisi tenda yang ternyata kemasukan air, karena hujan terus menerus hingga ada pendaki lain yang membuang air bekas masakan ke arah tenda kami yang akhirnya merembes ke dalam tenda. Setelah berulang kali terbangun, saya melihat jam di gawai sudah menunjukkan pukul 4 dinihari, lalu saya membangunkan teman saya, Rico untuk melihat kondisi di luar apakah masih hujan atau langit terang benderang. Dengan rasa yang masih malas bangun, akhirnya dia membuka pintu tenda dan segera melihat ke langit. Kemudian dia berteriak girang ke dalam tenda, “bintangnya banyak banget bro” . Sontak saya dan Fauzi benar-benar terbangun dari tidur. Sementar temanku satu lagi, Fadil masih saja enggan pergi dari alam mimpi.  Saya segera menyiapkan kamera dan tripod yang memang sengaja saya bawa dengan tujuan untuk memotret milkyway saat malam nanti. Awalnya Fauzi masih malas keluar karena dia termasuk orang yang tidak tahan dingin, namun setelah saya dan Rico yakini dia kalo memang langit pada malam itu sangat cantik sekali, dia pun bergegas keluar tenda. Setelah saya pasang dan atur kamera , satu persatu teman saya ingin jadi model dengan latar belakang milkyway. Rencana kami sebelumnya ingin melakukan summit attack pukul 4 dinihari, namun karena melihat cantiknya langit malam itu, kami memutuskan untuk melakukannya saat matahari sudah terbit nanti. Makin lama, bintang pun semakin hilang dan segera berganti sunrise . Momen matahari terbit adalah salah satu momen yang sangat ditunggu oleh para pendaki.

Pendakian gunung merapi via new selo merapi tak pernah ingkar janji milkyway

Milkyway Gunung Merapi

Pendakian gunung merapi via new selo merapi tak pernah ingkar janji milkyway

Sunrise di Gunung Merapi (Dok : @azizcpc05)

Setelah kami puas menikmati milkyway dan sunrise, kami segera bersiap-siap untuk menuju Pasar Bubrah dan tentunya menuju ke Puncak Garuda. Jika ada teman-teman bertanya, Mengapa dinamakan Pasar Bubrah? Memang ada pasar di atas gunung? saya coba sedikit tulis apa yang saya tahu tentang Pasar Bubrah. Berdasarkan cerita warga sana, Tempat ini merupakan pasarnya para makhluk halus, yang dapat dilihat pada setiap malam Jum’at. Pada saat itu, jangan heran bila akan terdengar keramaian layaknya sebuah pasar malam di puncak gunung ini. Saat berkemah di malam hari , ada dua orang teman perempuan saya mendengar suara gamelan dan gending jawa yang cukup keras dan terasa sangat dekat. Saya sendiri tidak mendengar suara itu saat berkemah waktu itu. Jarak perjalanan dari lokasi berkemah ke Pasar Bubrah sekitar 700 meter, bisa ditempuh dengan waktu 45 menit. Masih dengan kontur pasir, menanjak dan berbatu kami meneruskan perjalanan, namun kami sempat berhenti sebentar untuk mengambil foto dengan latar belakang Gunung Merbabu yang menyapa kami pagi itu.

Pendakian Gunung Merapi via new Selo Merapi tak pernah ingkar janji merbabu view

Merbabu View dari Merapi

Akhirnya sampai juga di Pasar Bubrah, kata saya waktu terlihat tulisan Pasar Bubrah yang tertera pada sebuah tiang kayu. Berfoto di depan tulisan Pasar Bubrah tampaknya sudah menjadi kewajiban semua pendaki yang mendaki Gunung Merapi. Ramai sekali pendaki yang mengantre untuk berfoto di depan tulisan itu. Kami pun tidak ketinggalan untuk berfoto di depan tulisan itu. Sekitar 15 menit di Pasar Bubrah, kami melanjutkan perjalanan ke puncak Garuda. Sebenarnya, batas pendakian yang masih termasuk asuransi hanya sampai Pasar Bubrah, namun melihat banyak orang yang tetap naik ke puncak Garuda, kami pun ikut naik juga.

Setelah Pasar Bubrah, kami disambut jalanan pasir yang menurun. Kami memilih jalur ke sebelah kiri dimana terlihat banyak pendaki yang naik melalui jalan itu. Jalur menuju puncak Garuda memiliki kemiringan sekitar 45 derajat. Medan nya berupa pasir dan berbatu. Kata teman saya, tempat ini cocok untuk latihan sebelum mendaki puncak Mahameru di gunung Semeru. Kami berjalan lancar, sebelum bertemu dengan jalur yang mulai menanjak, tiap 5 langkah kaki akan turun 2 langkah kaki. Bayangkan betapa sulitnya untuk mencapai puncak, saya sendiri beberapa langkah berhenti untuk mengatur nafas. Kemudian melanjutkan lagi perlahan namun pasti, saya menyalakan lagu menggunakan speaker bluetooth untuk menemani jalan saya mendaki puncak. Beberapa pendaki yang turun dari atas puncak memberi saya semangat agar tetap melanjutkan langkah. Setelah 1.5 jam perjalanan, akhirnya saya sampai di puncak Garuda, saya termasuk yang telat sampai di puncak karena saya sering berhenti di tengah perjalanan untuk memotret beberapa momen.

Pendakian Gunung Merapi via new Selo Merapi tak pernah ingkar janji merbabu view

Kemiringan Jalur menuju Puncak

Pendakian Gunung Merapi via new Selo Merapi tak pernah ingkar janji Puncak Garuda

Jalur Pasir dan Berbatu Menuju Puncak Garuda

Pendakian Gunung Merapi via new Selo Merapi tak pernah ingkar janji Puncak Garuda Jawa Tengah

Berfoto di Puncak Garuda

Pendakian Gunung Merapi via new Selo Merapi tak pernah ingkar janji puncak garuda koper

Puncak Garuda saat Berkabut

Saat sampai di puncak Garuda, kami di sambut oleh kabut tebal, jadi kami harus bersabar untuk bergantian mengabadikan momen. Sekitar 30 menit kami berada di puncak Garuda, kami segera turun kembali ke camp untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh panitia. Saat dalam perjalanan turun, ada beberapa teman saya yang turun dengan merosot. Hal ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena jika terpleset sedikit saja bisa membuat memar pada tubuh. Perjalanan turun lebih cepat 45 menit daripada menanjak. Setelah kenyang menyantap makanan, kami bergegas untuk packing semua peralatan dan mengumpulkan sampah untuk dibawa ke basecamp awal pendakian. Pukul 12.00 kami memulai perjalanan turun, saat perjalanan turun kembali ditemani oleh rintik hujan. Ketika turun, saya mengalami sakit kepala dan kaki sedikit terkilir sehingga tas carriel saya dibawa oleh teman saya. Jalan saya sangat lambat karena kondisi tubuh yang tidak fit saat itu. Jam 3 sore akhirnya kami sampai di basecamp New Selo, dan langsung menaiki truk menuju ke basecamp Gancik untuk bersih-bersih dan mengambil beberapa barang yang dititipkan. Jam 4 kami segera berangkat menuju stasiun Solo Jebres untuk kemudian dilanjutkan perjalanan kereta Brantas pukul 18.35 menuju Stasiun Pasar Senen, Jatinegara.

Pendakian Gunung Merapi via new Selo Merapi tak pernah ingkar janji puncak garuda koper

Sarapan di Gunung Merapi

Pendakian Gunung Merapi via new Selo Merapi tak pernah ingkar janji senja Stasiun Solo Jebres

Senja di Stasiun Solo Jebres

Jam 17.35 kami sampai di Stasiun Solo Jebres, kami melakukan beberapa kegiatan, ada yang mengumpulkan tas carriel , ada yang membeli makanan untuk bekal di kereta nanti, sementara saya menangkap senja yang muncul di sudut stasiun itu. Sayang sekali jika dilewatkan begitu saja. Pukul 18.00 kami mulai memasuki kereta dan menaruh barang-barang di tempat penyimpanan. Kereta berjalan dan kami mulai berbincang tentang pengalaman seru yang terjadi saat pendakian yang baru saja kami lakukan. Singkat cerita tibalah kami di stasiun akhir perjalanan, sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

TAGS
RELATED POSTS
7 Comments
  1. Balas

    Hayati Ayatillah

    28 Maret 2018

    Foto dan ceritanya ajiippp banget, Mas 👍👍👍

    • Balas

      Achmadi Anggi

      28 Maret 2018

      Makasih mbak hay

  2. Balas

    endang cippy

    29 Maret 2018

    Foto-fotonya bagus-bagus. Keren euy..

    • Balas

      Achmadi Anggi

      29 Maret 2018

      Makasih mbak

  3. Balas

    Yunita Tresnawati

    11 April 2018

    Artikelnya deskriptif sekali, saya suka. Tanda baca ditulis melekat di huruf terakhir kata, saya menemukan penulisan koma yang diberi spasi setelah kata. Selebihnya semua sudah bagus sekali.

    Semangat menulis terus ya.

    • Balas

      Achmadi Anggi

      11 April 2018

      Terimakasih saran nya ka

LEAVE A COMMENT

Achmadi Anggi
Indonesia

Hai! Aku Achmadi. Melalui blog ini saya berbagi semua minat saya ke dalam perjalanan, petualangan, dan fotografi. .